Mengapa Karakter Queer di Drakor Dulu Sering Tersisih
Drakor lama kerap menempatkan karakter queer dalam tragedi, komedi, atau peran pendukung. Pola ini lahir dari ketidakpastian sensor, tekanan penonton massal, dan kehati-hatian komersial—bukan satu larangan sederhana.

Televisi Korea pada masa lalu tidak bekerja di bawah satu aturan sederhana yang mewajibkan karakter queer berakhir tragis atau menjadi pemeran sampingan. Pola itu muncul dari beberapa risiko yang saling bertumpuk: batas penilaian siaran yang sulit diprediksi, jam tayang keluarga, penolakan terorganisasi, dan tekanan komersial untuk menyenangkan satu kelompok penonton yang sangat luas. Platform streaming dan web memperkecil skala pertaruhannya, tetapi durasi tampil yang lebih panjang pun belum tentu menghasilkan representasi yang lebih utuh.
Batasnya nyata, meski tak ada satu larangan menyeluruh
Peraturan penilaian siaran yang berlaku sekarang tidak memuat satu pasal ringkas yang serta-merta melarang romansa sesama jenis. Praktiknya lebih mudah dipahami lewat kasus. Drama keluarga SBS Life Is Beautiful mempertahankan hubungan Tae-seop dan Kyung-soo. Komisi pada akhirnya menyatakan tidak ada masalah dalam penilaian, tetapi drama itu tetap menghadapi iklan satu halaman penuh yang bernada keras, sebagaimana diberitakan Kyunghyang Shinmun.
Pada 2015, Schoolgirl Detectives dari JTBC mendapat peringatan karena adegan ciuman dua karakter remaja perempuan. Laporan Yonhap mencatat kekhawatiran panel atas intensitas adegan dan usia karakternya. Dua kasus ini tidak membuktikan adanya larangan universal. Keduanya justru memperlihatkan batas yang dapat bergeser menurut format, rating usia, bentuk adegan, susunan panel, dan respons publik.
Mengapa peran pendukung terasa lebih “aman”
Ketika risiko melekat pada karakter, bukan pada satu kalimat terlarang, kompromi struktural menjadi pilihan yang menarik: karakter cukup terlihat untuk memberi kesan modern, tetapi tidak terlalu sentral hingga menentukan akhir cerita. Sebuah tesis magister Seoul National University tahun 2024 menelaah drama periode 2012–2023 serta wawancara dengan penonton queer. Hasilnya menemukan karakter yang makin sering muncul dan lebih berlapis, tetapi masih disertai ambiguitas strategis atau dimanfaatkan untuk romansa heteroseksual, plot twist, komedi, maupun efek kejut.
Sebagian peserta wawancara menganggap visibilitas terbatas sebagai celah pembuka. Sebagian lain merasa pola itu tetap mempersempit gambaran tentang hidup queer. Akhir tragis juga dapat menghadirkan ledakan emosi tanpa menuntut stasiun televisi membayangkan kehidupan sehari-hari pasangan tersebut setelah konflik utama berakhir.
Kehati-hatian komersial bekerja sebelum regulator menelepon
Stasiun televisi tidak memerlukan perintah tertulis dari pengiklan untuk mengantisipasi keluhan, kegelisahan merek, atau kesulitan penjadwalan. Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari model bisnis penonton massal dan penolakan yang telah terdokumentasi—bukan bukti bahwa pengiklan tertentu pernah menulis ulang sebuah adegan.
“Penonton Korea” juga tidak pernah memiliki satu suara. Survei Gallup Korea pada Mei 2023 mencatat 40% responden mendukung legalisasi pernikahan sesama jenis dan 51% menolak, dengan perbedaan besar antarkelompok usia. Survei itu tidak dapat meramalkan rating satu drama. Namun, datanya membantu menjelaskan mengapa kanal rumah tangga yang membidik penonton luas mungkin menilai risiko pemeran utama queer secara berbeda dari platform berlangganan.
Yang dicari penonton adalah kedalaman biasa, bukan tokoh sempurna
Harapan yang berulang bukanlah agar setiap karakter queer selalu terpuji. Intinya, karakter tersebut perlu tetap diperlakukan sebagai manusia, bukan alat cerita. Sebuah diskusi lama di r/KDRAMA mencari peran yang tidak dipersempit menjadi bahan lelucon, penjahat, atau predator. Para komentator berbeda pendapat tentang serial tertentu, tetapi berulang kali menghargai romansa, persahabatan, motif yang melampaui momen mengungkap identitas, serta kehidupan yang tetap berlanjut setelah protagonis heteroseksual pergi.
Percakapan komunitas ini bersifat anekdotal, bukan survei yang mewakili seluruh penonton. Durasi tampil bisa dihitung. Agensi, dunia batin, dan hak karakter untuk tetap hadir dalam cerita jauh lebih sulit diukur.
OTT mengubah ukuran dan bentuk pertaruhannya
Streaming tidak menciptakan cerita queer Korea dari nol, juga tidak menghapus penolakan. Perubahannya terletak pada cara sebuah proyek dapat menjangkau kelompok penonton tertentu di luar jadwal menonton keluarga, lalu mengukur keberhasilan sebagai bagian dari katalog. Temuan Korea Media Panel 2024 dari KISDI mencatat penggunaan OTT sebesar 89,2%, termasuk 98,9% di kalangan milenial dan 98,2% pada Gen Z. Angka survei historis ini tidak membuktikan bahwa streaming sendirian memperbaiki representasi. Angka tersebut hanya menunjukkan mengapa kelompok penonton yang dahulu dianggap “terlalu kecil” kini bisa cukup layak untuk sebuah produksi.
Semantic Error dari WATCHA menempatkan romansa kampus dua laki-laki di pusat cerita. Sementara itu, *Love in the Big City* dari TVING menjadikan pertemuan, perpisahan, dan pertumbuhan Go-young sebagai premis utama. Drama televisi Mine juga patut diperhitungkan. Ildaro membaca Suzy Choi sebagai pergeseran dari anggapan lama bahwa cinta queer selalu harus berakhir tragis.
Lebih terlihat belum tentu lebih terwakili
BL Korea telah menjadi genre romansa yang berarti secara komersial. Namun, konvensi genre dan pengalaman hidup queer bukan dua hal yang sama. Sebuah serial dapat memusatkan kisah dua laki-laki sambil menghapus hampir seluruh konteks sosial. Serial lain mungkin menampilkan diskriminasi tanpa henti hingga karakter tersebut nyaris tak punya kehidupan di luar penderitaan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “apakah ada karakter queer?” Perhatikan apa yang boleh mereka inginkan, apakah pilihan mereka mengubah jalan cerita, dan apakah kisahnya mampu membayangkan pekerjaan, teman, hasrat, kesalahan, serta masa depan setelah identitasnya diketahui. Akhir tragis tidak otomatis regresif; akhir bahagia juga tidak otomatis mendalam. Kemajuan berarti tersedianya ruang bagi lebih dari satu jenis kehidupan dan akhir cerita.
Sumber dan kredit gambar
- Tesis Seoul National University: Re-reading Queer Representation in Korean Dramas — analisis drama 2012–2023 dan wawancara dengan penonton queer
- National Law Information Center: Peraturan Penilaian Siaran — teks peraturan terkini, diperiksa 12 Agustus 2026; isinya tidak setara dengan satu larangan sederhana atas romansa sesama jenis
- SBS News: keputusan penilaian Life Is Beautiful — laporan sezaman tentang keputusan tidak ada masalah pada 2010
- Yonhap: peringatan untuk Schoolgirl Detectives — laporan sezaman tentang peringatan pada 2015 yang melibatkan karakter remaja
- Kyunghyang Shinmun: penolakan terhadap Life Is Beautiful — laporan sezaman tentang penolakan terorganisasi dan iklan satu halaman penuh
- KISDI: temuan Korea Media Panel 2024 — hasil historis penggunaan OTT pada 2024; bukan bukti hubungan sebab akibat
- Gallup Korea: pandangan tentang homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis — survei sikap nasional Mei 2023 dan rincian menurut usia
- Diskusi penonton r/KDRAMA — harapan dan perbedaan pendapat penonton yang bersifat anekdotal; bukan jajak pendapat representatif
- WATCHA: Semantic Error — informasi program dan gambar unggulan; foto oleh WATCHA
- SBS: Life Is Beautiful episode 31 — gambar badan artikel 1–2; foto oleh SBS
- TVING: Love in the Big City — informasi program terkini dan gambar badan artikel 3–4; foto oleh TVING
- Aset gambar sampul — sampul Delivery Spot yang memakai gambar program WATCHA dengan kredit di atas
- Tae-seop dan Kyung-soo di dalam mobil — berkas gambar pertama dalam slider Life Is Beautiful
- Tae-seop dan Kyung-soo di rumah — berkas gambar kedua dalam slider Life Is Beautiful
- Go-young di restoran — berkas gambar pertama dalam slider Love in the Big City
- Go-young di taman — berkas gambar kedua dalam slider Love in the Big City







