Kembali ke panduan wisata

Mengapa Camping dan Glamping Begitu Populer di Korea?

Camping menawarkan pelarian singkat dan akrab ke alam bagi warga kota, sedangkan glamping menghilangkan kerepotan membeli perlengkapan dan mendirikan tenda. Survei terbaru Korea memperlihatkan kebiasaan besar yang mulai matang, dengan perebutan reservasi terutama terjadi pada akhir pekan favorit—bukan di setiap lokasi kemah.

#camping di Korea#glamping#gaya hidup Korea#budaya akhir pekan#rekreasi luar ruang
Tenda glamping kanvas dengan lampu gantung hangat di Cheonggyesan-jang dekat Seoul

Camping pas dengan ritme akhir pekan warga kota Korea: alam cukup dekat untuk didatangi semalam, sementara area kemah dapat disulap menjadi ruang keluarga pribadi sesuai selera. Glamping memperluas daya tarik itu. Sensasi menjauh sejenak tetap ada, tetapi urusan membeli, mengangkut, dan memasang sebagian besar perlengkapan hilang.

Skalanya besar, meski ceritanya tidak lagi sesederhana ledakan tren. Survei Pengguna Camping 2024 dari Korea Tourism Organization memperkirakan 5,46 juta warga Korea berusia 19–69 tahun melakukan setidaknya satu perjalanan camping bermalam pada 2024, setara 14,7% dari populasi usia tersebut. Jumlahnya turun dari 6,34 juta pada 2023. Laporan itu menyebut dirinya sebagai statistik nonresmi, sehingga kekuatannya terletak pada potret nasional yang mendetail—bukan jaminan bahwa setiap angkanya bersifat mutlak.

Lokasi camping terbaik sering kali yang paling dekat

Saat responden memilih wilayah untuk camping, jarak menjadi pertimbangan utama bagi 49,5% dari mereka. Fasilitas perkemahan berada jauh di posisi kedua dengan 14,0%. Urutan ini menjelaskan sesuatu yang lebih praktis daripada angan-angan kembali ke alam: bagi warga kota yang hanya punya satu malam luang, waktu berkendara yang masuk akal bisa lebih penting daripada nama destinasi terkenal.

Suasananya pun berubah mengikuti musim tanpa membutuhkan cuti panjang. Lokasi berhutan di pinggir Seoul terasa seperti ruang berbeda menjelang senja, lalu beralih menjadi tempat bernaung dengan tungku dan kopi ketika musim dingin tiba. Dua pemandangan berikut berasal dari Dulle Camp yang sama. Karena itulah, keduanya lebih bermakna jika dilihat sebagai satu rangkaian, bukan sekadar dua foto dekoratif.

Pondok Dulle Camp dan tungku luar ruang terlihat dari bukaan tenda kanvas dekat Seoul
1 / 2

Area kemah menjadi ruang yang dirancang sendiri

Sisi visual camping ala Korea sulit dilewatkan. Tenda, terpal, lentera, meja, kotak penyimpanan, dan peralatan masak dirangkai menjadi satu set yang serasi. Sebagian kesenangannya justru muncul saat menata ruang sebelum siapa pun duduk untuk makan. Foto-foto di internet memudahkan orang membandingkan dan meniru susunan tersebut, sehingga peralatan fungsional ikut menjadi bahasa selera.

Namun, belanja perlengkapan tidak lagi melaju sekencang dulu. Survei KTO yang sama mencatat rata-rata pengeluaran tahunan untuk peralatan camping sebesar KRW 786.000 pada 2024, turun dari KRW 1,49 juta pada 2020. Penurunan ini mengarah pada pasar yang mulai matang: banyak camper rutin sudah memiliki perlengkapan dasar, sementara puncak belanja pada 2020 telah berlalu. Peralatan tetap penting, tetapi kebiasaannya dapat bertahan setelah gelombang belanja mereda.

Glamping memangkas bagian yang paling merepotkan

Pertanyaan pemula biasanya berulang: berapa banyak perlengkapan, ruang penyimpanan, perjalanan dengan mobil, dan waktu memasang tenda yang harus dilalui sebelum bisa menikmati suasana? Sebuah diskusi Reddit tentang glamping dekat Seoul menangkap hambatan itu. Penulis unggahannya tertarik mencoba, tetapi camping biasa terasa rumit setelah melihat daftar perlengkapan dan masalah transportasi. Diskusi ini berguna sebagai petunjuk tentang pertanyaan yang sering muncul, bukan statistik nasional.

Unit glamping kanvas permanen dengan teras memasak berjaring di Solnaeum Campground, Suwon

Glamping menjawabnya dengan unit permanen, tempat tidur, dan sebagian besar furnitur yang sudah tersedia. Dalam survei KTO, 38,4% orang yang camping dan bermalam pada 2024 mengatakan pernah menggunakan glamping setidaknya sekali. Di antara orang yang belum pernah camping tetapi berniat mencobanya dalam tiga tahun, 50,9% lebih memilih glamping. Persentasenya mencapai 61,1% pada kelompok usia 19–29 tahun dan 54,1% di Seoul, Gyeonggi, serta Incheon. Blog pariwisata Provinsi Gyeonggi merangkum daya tarik yang sama dengan sederhana: pemula bisa langsung datang tanpa merakit satu set perlengkapan lengkap.

Tempat tidur, kursi, meja, dan area memasak tertata di dalam tenda glamping Donghwa Healing Camp

Yang perlu diingat, “glamping” adalah label luas, bukan standar hotel. Satu tempat mungkin menyediakan kamar berpemanas, kamar mandi pribadi, dan alat masak. Tempat lain bisa jadi hanya menawarkan tenda berperabot. Daftar fasilitas tetap harus dicek satu per satu. Kemudahan memang menjadi daya tariknya, tetapi tingkat kemudahan itu tidak sama di setiap lokasi.

Perebutan reservasi terutama terjadi pada hari Sabtu

Pengunjung bisa saja merasa semua tempat bagus selalu penuh, sementara pengelola masih melaporkan banyak kapasitas kosong. Bagian survei operator 2024 mencatat rata-rata tingkat hunian tahunan sebesar 40,6%. Namun, pada akhir pekan musim semi dan gugur, angkanya melonjak menjadi 70,9% dan 74,3%. Di kawasan ibu kota, tingkat hunian akhir pekan pada dua musim tersebut bahkan mencapai 76,3% dan 79,2%. Hari kerja pada musim yang sama jauh lebih sepi.

Inilah teka-teki reservasinya: permintaan menumpuk pada akhir pekan bercuaca sejuk yang sama, di lokasi dekat kota, untuk liburan satu malam yang sama. Pasarnya tidak penuh setiap saat. Slot yang sesuai dengan kalender pekerja kota jauh lebih sering habis, sehingga reservasi tetap terasa sengit meski jumlah peserta secara keseluruhan menurun.

Ledakan trennya mereda, kebiasaannya bertahan

Camping di Korea lebih sering menjadi kegiatan bersama daripada perjalanan sendirian. Dalam survei KTO, 73,5% camper menyebut keluarga sebagai teman perjalanan dan 40,4% menyebut teman; camper solo hanya 3,1%. Sepanjang 2024, rata-rata responden melakukan 5,6 perjalanan camping. Frekuensi itu cukup untuk menjadikannya rutinitas rekreasi, bukan ekspedisi setahun sekali. Usia, pendapatan, dan wilayah memengaruhi polanya, sehingga angka-angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai satu watak nasional yang seragam.

Angka untuk tahun berikutnya juga terdengar realistis, bukan berlebihan: 59,9% memperkirakan jumlah perjalanan mereka tetap sama dan 23,4% berharap pergi lebih sering, sedangkan 16,8% berencana mengurangi atau berhenti. Ini menggambarkan hobi yang bertahan sambil memasuki fase matang. Alam yang dekat membuat akhir pekan singkat tetap memungkinkan, perlengkapan memberi camper rutin ruang untuk membangun dunia versi mereka sendiri, dan glamping membuka pintu bagi pendatang baru tanpa menuntut satu gudang penuh peralatan.

Sumber dan kredit gambar

Bepergian lebih ringan di Korea

Titipkan atau kirim bagasi di Delivery Spot terdekat

Pilih lokasi mitra yang mudah dijangkau, periksa layanan yang tersedia, lalu lanjutkan perjalanan tanpa membawa barang berat.

Cari Delivery Spot terdekat
Mengapa Camping dan Glamping Populer di Korea